Minggu, 17 Juli 2016

SIFAT KOLIGATIF LARUTAN

SIFAT KOLIGATIF LARUTAN
ERNALIA ROSITA
133020175
Jurusan Teknologi Pangan, Fakultas Teknik, Universitas Pasundan
ABSTRAK
                Sifat koligatif larutan adalah sifat larutan yang tidak bergantung pada jenis zat terlarut tetapi hanya bergantung pada konsentrasi partikel zat terlarutnya. Sifat koligatif larutan terdiri dari 4 bagian yaitu penurunan tekanan uap, kenaikan titik didih, penurunan titik beku, dan tekanan osmosis. Tujuan percobaan ini adalah untuk menentukan penurunan tekanan uap, titik beku larutan, menentukan titik didih dan menentukan tekanan osmotik suatu larutan. Prinsip percobaan ini berdasarkan Hukum Roult yang menyatakan bahwa penurunan titik beku larutan, sebanding dengan konsentrasi larutan yang dinyatakan dengan metode molaritas. Berdasarkan hasil pengamatan didapatkan kenaikan titik didih larutan gula 5 gram dengan Tb 92ºC, ∆Tb berdasarkan praktikum 1ºC, dan ∆Tb berdasarkan teori sebesar 0,07592ºC. Sedangkan pada kenaikan titik didih larutan garam 5 gram dengan Tb 92.5ºC, Tb berdasarkan praktikum 1.5ºC, ∆Tb berdasarkan teori sebesar 0,884ºC. Pada penurunan titik beku dengan menggunakan 3 sampel gula didapatkan hasil larutan gula A dengan Tf -3ºC, ∆Tf berdasarkan praktikum 3ºC, dan ∆Tf berdasarkan teori sebesar 1,0788ºC. Pada larutan gula B didapatkan Tf -2ºC, ∆Tf berdasarkan praktikum 2ºC, dan ∆Tf berdasarkan teori sebesar 0,54312ºC. Sedangkan pada larutan gula C didapatkan Tf -1ºC, ∆Tf berdasarkan praktikum 1ºC, dan ∆Tf berdasarkan teori sebesar 0,27156ºC.
Key words: Sifat Koligatif Larutan, Tujuan Percobaan, Prinsip Percobaan, Hasil pengamatan.


PENDAHULUAN
Sifat koligatif larutan adalah sifat larutan yang tidak bergantung pada jenis zat terlarut tetapi hanya bergantung pada konsentrasi partikel zat terlarutnya. Sifat koligatif larutan terdiri dari 4 bagian yaitu penurunan tekanan uap, kenaikan titik didih, penurunan titik beku, dan tekanan osmosis.
Penurunan tekanan uap adalah peristiwa fenomena dimana tekanan uap larutan lebih rendah daripada tekanan pelarut murni. Penurunan titik beku mendeskripsikan bahwa titik beku suatu pelarut murni akan mengalami penurunan jika ditambahkan zat tersebut didalamnya. Kenaikan titik didih mendeskripsikan bahwa titik didih suatu pelarut murni akan bertambah bila ditambahkan zat terlarut didalamnya. Peristiwa osmosis menyebabkan naiknya permukaan larutan pekat, sehingga tekanan membesar yang pada gilirannya akan memperlambat laju osmosis. Akhirnya tercapailah suatu tekanan yang mampu menghentikan osmosis atau perpindahan molekul pelarut atau disebut tekanan osmosis.
Tujuan percobaan ini adalah untuk menentukan penurunan tekanan uap, titik beku larutan, menentukan titik didih dan menentukan tekanan osmotik suatu larutan.
Prinsip percobaan ini berdasarkan Hukum Roult yang menyatakan bahwa penurunan titik beku larutan, sebanding dengan konsentrasi larutan yang dinyatakan dengan metode molaritas.
METODOLOGI
Bahan dan Alat
                Bahan yang digunakan dalam percobaan ini adalah gula sukrosa dan garam. Sedangkan alat yang digunakan dalam percobaan adalah tabung reaksi, gelas kimia, bunsen, kaki tiga, kawat kassa, klem, statif, dan termometer.

Metode Percobaan

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil Pengamatan
Tabel 2. Hasil Pengamatan Kenaikan Titik Didih
              Larutan Garam 5 gram
Waktu (Menit)
Suhu (ºC)
Suhu Awal
26 ºC
1 menit
33 ºC
2 menit
42 ºC
3 menit
48 ºC
4 menit
55 ºC
5 menit
63 ºC
6 menit
69 ºC
7 menit
74 ºC
8 menit
79 ºC
9 menit
82 ºC
10 menit
85 ºC
11 menit
87 ºC
12 menit
88 ºC
13 menit
89 ºC
14 menit
91 ºC
15 menit
92,5 ºC
(Sumber:     Ernalia Rosita,     133020175,      Meja 11,
 Kelompok G, 2013)

Tabel 3. Hasil Pengamatan Kenaikan Titik Didih Air
Suhu Awal
Suhu Akhir
26ºC
91ºC
(Sumber:     Ernalia Rosita,     133020175,      Meja 11,
 Kelompok G, 2013)

 
Berdasarkan hasil pengamatan kenaikan titik didih yang telah dilakukan, didapatkan hasil:

Tabel 1. Hasil Pengamatan Kenaikan Titik Didih                        
               Larutan Gula 5 gram          
Waktu (Menit)
Suhu (ºC)
Suhu Awal
26 ºC
1 menit
33 ºC
2 menit
39 ºC
3 menit
45 ºC
4 menit
51 ºC
5 menit
56 ºC
6 menit
61 ºC
7 menit
65 ºC
8 menit
69 ºC
9 menit
73 ºC
10 menit
76 ºC
11 menit
78 ºC
12 menit
80 ºC
13 menit
82 ºC
14 menit
84 ºC
15 menit
86 ºC
16 menit
87 ºC
17 menit
88 ºC
18 menit
89 ºC
19 menit
90 ºC
20 menit
92 ºC
(Sumber:     Ernalia Rosita,     133020175,      Meja 11,
 Kelompok G, 2013)


Perhitungan:
Sampel
Titik Didih Larutan (Tb)
∆Tb berdasarkan praktikum
∆Tb berdasarkan teori
Larutan Gula
92ºC

∆Tb = Tb – Tb0
          = 92 ºC – 91 ºC
        = 1 ºC


∆Tb = m x kb
        =  gr  x 1000   x kb
            Mr       p
        =    5    x 1000  x 0,52
            342      100
        = 0,0146 x 10 x 0,52
        = 0,0759 ºC
Larutan Garam
92,5ºC




∆Tb = Tb – Tb0
          = 92,5 ºC – 91 ºC
        = 1,5 ºC

∆Tb = m x kb x i
        =  gr  x 1000   x kb x (1+(n-1)α)
            Mr       p
        =    5    x 1000  x 0,52 x (1+(2-1)1)
            58,5     100
        = 0,085 x 10 x 0,52 x 2
        = 0,884 ºC

Gambar 6. Grafik Kenaikan Titik Didih Larutan Gula dan Garam
                Berdasarkan hasil pengamatan penurunan titik beku yang telah dilakukan, didapatkan hasil:
Sampel
Waktu (Menit)
Suhu (ºC)
Titik Beku Larutan (Tf)
∆Tf berdasarkan praktikum
∆Tf berdasarkan teori
Larutan Gula A
1 gram
1 menit

3 ºC

-3 ºC



∆Tf = Tf0 – Tf
       = 0 – (-3)
       = 3 ºC

∆Tf = m x kf
       = gr  x 1000   x kf
          Mr       p
       =  1    x  1000  x 1,86
          342        5
       = 0,0029 x 200 x 1, 86
       = 1,0788ºC


2 menit


-2 ºC
3 menit
-3 ºC
Larutan Gula B
0,5 gram

1 menit


2 ºC
-2 ºC



∆Tf = Tf0 – Tf
       = 0 – (-2)
       = 2 ºC

∆Tf = m x kf
       = gr  x 1000   x kf
          Mr       p
       = 0,5  x  1000  x 1,86
          342        5
       = 0,00146 x 200 x 1, 86
       = 0,54312 ºC


2 menit

0 ºC
3 menit
  -2 ºC
Larutan Gula C
0,25 gram

1 menit

1 ºC
-1 ºC



∆Tf = Tf0 – Tf
       = 0 – (-1)
       = 1 ºC

∆Tf = m x kf
       = gr  x 1000   x kf
          Mr       p
       = 0,25  x  1000  x 1,86
           342          5
       = 0,00073 x 200 x 1, 86
       = 0,27156 ºC


2 menit

0 ºC
3 menit
  -1 ºC
(Sumber: Ernalia Rosita, 133020175, Meja 11, Kelompok G, 2013)

Gambar 7. Penurunan Titik Beku Larutan Gula

Pembahasan
                Berdasarkan hasil pengamatan sifat koligatif larutan didapatkan kenaikan titik didih larutan gula 5 gram dengan Tb 92ºC, ∆Tb berdasarkan praktikum 1ºC, dan ∆Tb berdasarkan teori sebesar 0,07592ºC. Sedangkan pada kenaikan titik didih larutan garam 5 gram dengan Tb 92.5ºC, Tb berdasarkan praktikum 1.5ºC, ∆Tb berdasarkan teori sebesar 0,884ºC. Pada penurunan titik beku dengan menggunakan 3 sampel gula didapatkan hasil larutan gula A dengan Tf -3ºC, ∆Tf berdasarkan praktikum 3ºC, dan ∆Tf berdasarkan teori sebesar 1,0788ºC. Pada larutan gula B didapatkan Tf -2ºC, ∆Tf berdasarkan praktikum 2ºC, dan ∆Tf berdasarkan teori sebesar 0,54312ºC. Sedangkan pada larutan gula C didapatkan Tf -1ºC, ∆Tf berdasarkan praktikum 1ºC, dan ∆Tf berdasarkan teori sebesar 0,27156ºC.
Faktor kesalahan yang dapat terjadi pada percobaan sifat koligatif larutan adalah kurang bersihnya alat yang digunakan sehingga dapat mempengaruhi reaksi yang terjadi, kurang telitinya praktikan dalam mengamati perubahan yang terjadi, kesalahan pembacaan termometer, dan pengamatan yang dilakukan secara tidak menyeluruh pada penurunan titik beku sehingga larutan sebenarnya belum mencapai titik beku.
                Air, gula dan garam mempunyai titik didih yang berbeda-beda. Air dapat mendidih pada suhu ±90ºC dan dari percobaan yang dilakukan, air mendidih pada suhu 91ºC. Diketahui gula mempunyai titik didih 92ºC dan garam 92,5ºC. Dari ketiga sampel yang diamati, titik didih larutan garam adalah yang paling besar karena larutan garam merupakan larutan elektrolit sedangkan larutan gula merupakan larutan non elektrolit.
                Larutan gula dan garam memiliki titik didih berbeda walaupun jumlah beratnya sama. Titik didih larutan garam lebih besar dari larutan gula karena larutan garam merupakan larutan elektrolit, sehingga partikel yang terdapat dalam larutan garam lebih banyak dari larutan gula yang merupakan larutan non elektrolit.
                Dari hasil pengamatan penurunan titik beku larutan A sebanyak 1 gram, larutan B sebanyak 0,5 gram, dan larutan C 0,25 gram, didapatkan hasil larutan gula A dengan Tf -3ºC, ∆Tf berdasarkan praktikum 3ºC, dan ∆Tf berdasarkan teori sebesar 1,0788ºC. Pada larutan gula B didapatkan Tf -2ºC, ∆Tf berdasarkan praktikum 2ºC, dan ∆Tf berdasarkan teori sebesar 0,54312ºC. Sedangkan pada larutan gula C didapatkan Tf -1ºC, ∆Tf berdasarkan praktikum 1ºC, dan ∆Tf berdasarkan teori sebesar 0,27156ºC. Dari ketiga hasil diatas dapat disimpulkan bahwa larutan gula A mempunyai titik beku paling rendah karena konsentrasi larutan gula A lebih besar dari konsentrasi larutan gula B dan larutan gula C.
      Fungsi dari garam dan es batu dalam sifat koligatif larutan yaitu ketika es dicampur dengan garam, sebagian membentuk air garam dan es secara spontan terlarut dalam air garam, akibatnya air garam semakin banyak. Di dalam segumpal es, air terstruktur membentuk tatanan geometrik yang tertentu dan kaku. Tatanan yang kaku ini rusak ketika diserang oleh garam, maka molekul-molekul air selanjutnya bebas bergerak ke mana-mana dalam wujud cair. Tetapi merusak struktur padat molekul-molekul es memerlukan energi. Untuk sebongkah es yang hanya kontak dengan garam dan air, energi itu hanya dapat diperoleh dari kandungan panas dalam air garam. Maka ketika es mencair dan terlarut, proses ini meminjam panas dari air dan menurunkan temperaturnya. Setelah temperatur dingin ini tercapai, dalam pemanfaatannya campuran itu mendapatkan panas pengganti dari adonan es krim yang mengakibatkan adonan es krim menjadi dingin dan beku.
      Dalam konsentrasi yang sama, sifat koligatif larutan elektrolit akan berbeda dengan sifat koligatif larutan non elektrolit. Hal ini dikarenakan jumlah partikel dalam larutan elektrolit lebih banyak karena adanya proses ionisasi zat terlarut. Zat elektrolit jika dilarutkan akan terionisasi menjadi ion-ion yang merupakan partikel-partikel di dalam larutan ini. Hal ini menyebabkan jumlah partikel pada satu mol larutan elektrolit lebih banyak daripada larutan non elektrolit.
      Pada percobaan penurunan titik beku yang dilakukan, diketahui bahwa titik beku pelarut lebih rendah daripada titik beku larutan.
Pada percobaan sifat koligatif larutan diketahui bahwa sifat larutan hanya bergantung pada konsentrasi partikel zat terlarut dan tidak begantung pada jenis zat terlarut dalam reaksi tersebut.
      Faktor yang mempengaruhi titik didih adalah zat terlarut dan tekanan atmosfer. Sedangkan faktor yang mempengaruhi titik beku adalah konsentrasi zat terlarut, bila konsentrasi zat terlarut semakin besar, maka penurunan titik beku juga semakin besar, adapun faktor lainnya yaitu molekul-molekul yang terurai dalam larutan tersebut.
Sifat koligatif larutan adalah sifat larutan yang tidak bergantung pada jenis zat terlarut tetapi hanya bergantung pada konsentrasi partikel zat terlarutnya. Sifat koligatif larutan terdiri dari 4 bagian yaitu penurunan tekanan uap, kenaikan titik didih, penurunan titik beku, dan tekanan osmosis.
Titik didih adalah suhu (temperatur) dimana tekanan uap sebuah zat cair sama dengan tekanan eksternal yang dialami oleh cairan. Larutan dapat dibagi menjadi dua berdasarkan nilai titik didih zat terlarut. Pertama adalah titik didih zat terlarut lebih kecil daripada pelarutnya sehingga zat terlarut lebih mudah menguap. Yang kedua adalah zat terlarut lebih besar daripada pelarutnya dan jika dipanaskan pelarut lebih dulu menguap. Kenaikan titik didih larutan bergantung pada jenis zat terlarutnya. 
Kenaikan titik didih adalah peristiwa meningkatnya titik didih suatu pelarut yang disebabkan karena adanya zat terlarut didalam pelarut tersebut artinya bahwa titik didih pelarut akan lebih kecil jika dibandingkan dengan titik larutan.
Titik didih suatu zat dipengaruhi oleh tekanan udara, artinya makin besar tekanan udara maka semakin besar pula titik didih zat cair tersebut, begitupun juga sebaliknya semakin rendah tekanan udara, maka semakin rendah pula titik didihnya. Pada keadaan standar (76 cmHg, 25C) titik didih air sebesar 100C.
Titik beku suatu zat merupakan suhu dimana wujud padat dan wujud cair berada dalam kesetimbangan termal. Pada titik beku, benda sedang mengalami perubahan wujud dari cair ke padat atau dari padat ke cair dan selama perubahan wujud, suhu benda selalu tetap.
Penurunan titik beku adalah peristiwa yang mendeskripsikan bahwa titik beku suatu pelarut murni akan mengalami penurunan jika ditambahkan zat terlarut didalamnya.
Penurunan tekanan uap adalah peristiwa dimana tekanan uap larutan lebih rendah daripada tekanan pelarut murni.
Tekanan osmosis adalah tekanan yang diberikan pada larutan yang dapat menghentikan perpindahan molekul-molekul pelarut kedalam larutan melalui membran semipermiabel.
Reverse osmosis RO (Osmosis terbalik) adalah suatu metode penyaringan yang dapat menyaring berbagai molekul besar dan ion-ion dari suatu larutan dengan cara memberi tekanan pada larutan ketika larutan itu berada di salah satu sisi membran seleksi (lapisan penyaring). Proses tersebut menjadikan zat terlarut terendap di lapisan yang dialiri tekanan sehingga zat pelarut murni bisa mengalir ke lapisan berikutnya. Membran seleksi itu harus bersifat selektif atau bisa memilah yang artinya bisa dilewati zat pelarutnya (atau bagian lebih kecil dari larutan) tapi tidak bisa dilewati zat terlarut seperti molekul berukuran besar dan ion-ion.
Aplikasi di bidang pangan dari sifat koligatif larutan adalah untuk pembuatan telur asin, asinan, es polar, larutan elektrolit atau isotonik, ice cream, pembuatan gulali dan lain-lain.
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil percobaan sifat koligatif larutan dapat disimpulkan bahwa konsentrasi/jumlah zat mempengaruhi kenaikan titik didih dan penurunan titik beku yang diamati. Jenis zat tidak mempengaruhi, yang mempengaruhi yaitu jumlah zat.

0 komentar:

Posting Komentar

 

My Corner Template by Ipietoon Cute Blog Design and Bukit Gambang